RAPAT KOORDINASI PERCEPATAN SWASEMBADA PANGAN TAHUN 2026 KOTA DENPASAR
Denpasar, 5 Maret 2026 – dalam rangka Percepatan Pencapaian Program Swasembada Pangan, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali, menghadiri undangan rapat koordinasi tentang pergiliran varietas padi genjah bertempat di Ruang Rapat Dinas Pertanian Kota Denpasar.
Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengetahui kesiapan petani mengganti varietas yang biasa ditanam dengan varietas yang genjah, potensi hasil tinggi dan tahan penyakit, serta kesiapan penebas dan penyosohan beras untuk membeli gabah petani.
Rapat dibuka oleh Kepala Bidang TPH I Gusti Ayu Ngurah Anggreni Suwari, SP, M.Si., dihadiri oleh BRMP Bali, Dinas Pertanian Kota Denpasar, Kabid Bina Usaha, Katimker Kota Denpasar, Koordinator BPP Kecamatan se-Kota Denpasar, Penyuluh Pertanian se-Kota Denpasar, Pekaseh wilayah Kota Denpasar, penyosoh beras dan penebas.
Dalam sambutannya Suwari menyampaikan bahwa target LTT dari pusat untuk program swasembada pangan seluas 3.559 hektar. "Target tersebut jauh lebih tinggi dari target kita yaitu 2.987,95 hektar. Kendala alih fungsi lahan yang terus meningkat, menyebabkan LBS berkurang. Dengan demikian kepada petugas perlu strategi untuk pencapaian target tersebut. Terus berkoordinasi melaksanakan pengawalan dan pendampingan menangani permasalahan petani" ujarnya.
Selanjutnya Suwari juga menyampaikan kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu pengembangan areal padi seluas 450 hektar dengan varietas Inpari, Sunggal, M70D dan Cakrabuana Agritan dan demplot seluas 4 hektar dengan varietas Baroma dan Inpago 13 Fortiz. Diantara varietas tersebut yang belum pernah dicoba yaitu Cakrabuana Agritan. Untuk meyakinkan petani, penyosoh beras dan penebas disarankan BRMP menjelaskan terkait varietas tersebut.
Sagung Ayu Nyoman Aryawati, SP., M.P., (BRMP Bali) selaku PJ. Kota Denpasar memaparkan pentingnya pergiliran varietas dan deskripsi Cakrabuana Agritan. Dijelaskan pula tujuan pergiliran varietas untuk memutus siklus hama dan penyakit, mencegah patahnya ketahanan, dan optimalisasi nutrisi tanah. "Deskripsinya yaitu varietas umur sangat genjah (104 HSS/75-90 HST), tinggi tanaman 105 cm (batang kokoh, tahan rebah), daun bendera tegak (aman dari burung), anakan banyak (30-40 anakan), gabah panjang ramping, potensi hasil tinggi mencapai 10,2 ton/ha, tekstur nasi pulen, tahan penyakit blas, serta cocok untuk meningkatkan indeks pertanaman (IP) di lahan irigasi maupun tadah hujan" jelasnya.
Disebutkan juga strategi pengembangan dengan penggunaan benih bersertifikat, pendampingan teknis oleh PPL, penerapan pemupukan berimbang dan pengendalian OPT terpadu serta manajemen budidaya optimal sesuai SNI IndoGAP (SNI 8969:2021) adalah standar budidaya tanaman pangan yang baik, aman, dan berkelanjutan.
Sesi diskusi, pekaseh bersedia menanam varietas tersebut dengan saran agar memproleh pemupukan yang berimbang dengan menambah pupuk organik. Penyosoh beras, siap membeli gabah petani asalkan nasinya pulen dan disukai konsumen. Demikian juga penebas, siap membeli gabah dengan saran jual kiloan agar petani mengetahui hasil riil dengan varietas baru.
Saran dari petugas katimker, pergiliran varietas agar terus disosialisasikan ke pekaseh dan petani serta pada saat pemasaran Kabid Bina Usaha agar mendampingi dalam pemasaran hasil petani. Demikian juga dengan koordinator BPP, beberapa subak sudah siap menanam varietas baru dan agar penebas pada saat panen membeli hasil petani.
Pada sesi kesimpulan Kabid TPH menyarankan kepada petugas untuk mendampingi menyiapkan benih, pupuk, dan alsintan yang diperlukan petani. Ujung tombak dari kegiatan ini adalah pemasaran, telah disepakati akan dibeli penebas dan penyosoh beras. "Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam Percepatan Pencapaian Program Swasembada Pangan terutama di wilayah perkotaan seperti Denpasar" tutupnya.
(Sagung Aryawati)